"SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI MEDIA INFORMASI BIDANG ENERGI DAN KETENAGALISTRIKAN DINAS PERTAMBANGAN DAN ENERGI KAB. KUTAI KARTANEGARA"

Minggu, 22 Agustus 2010

2020, Indonesia Nikmati Listrik Berkualitas Dari Sesi Pertama (Batam) Rembuk Kelistrikan Nasional Menuju Indonesia Terang

0 komentar
Rembuk Kelistrikan Nasional telah dilaksanakan Sabtu (3/7) di Hotel Nagoya Plasa, Batam. Sedikitnya 150 tamu berpartisipasi dalam diskusi sesi pertama tersebut. Dua di antara tiga sesi yang direncanakan dijadwalkan berlangsung di Surabaya dan Makassar. Berikut catatannya.

SESI Batam menampilkan Dirut PLN Dahlan Iskan sebagai keynote speaker. Dahlan memaparkan master plan pembangunan kelistrikan nasional melalui Visi 75/100. Visi 75/100 adalah target pencapaian rasio elektrifikasi 100 persen secara nasional pada HUT Ke-75 RI pada 2020. ’’Berarti 10 tahun lagi 100 persen rakyat Indonesia akan memperoleh pelayanan listrik yang memadai dan berkualitas,’’ kata Dahlan.

Menurut dia, saat ini rasio elektrifikasi secara nasional baru berkisar 65 persen. Dengan demikian, 35 persen penduduk Indonesia belum terlayani jaringan listrik. Dengan tenggat yang tersisa, bukan perkara mudah mencapai target yang telah ditetapkan. Dibutuhkan segala upaya dari seluruh stakeholder untuk bersinergi dan saling mendukung dalam mencapai target tersebut.

Peluang dan tantangan pembangunan sektor kelistrikan nasional ke depan akan semakin kompleks karena melibatkan banyak faktor yang saling terkait. Dalam rembuk sesi pertama lalu, sejumlah peserta terlibat aktif mengangkat berberapa pokok yang perlu diperhatikan dan direkomendasikan untuk dikaji lebih lanjut, baik oleh pengambil keputusan (pemerintah dan DPR) maupun PT PLN dan stakeholder yang lain.

Pertama, terkait dengan status sektor kelistrikan yang diatur dalam UU No 30 Tahun 2008, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa listrik sebagai komoditas. Itu yang selama ini menyebabkan investasi di bidang kelistrikan kurang mengantisipasi kebutuhan pada masa depan.

Dalam diskusi yang berkembang, peserta menilai listrik seharusnya dipandang sebagai infrastruktur. Dengan demikian, pengembangan kelistrikan dapat diperhitungkan sebagai investasi yang dapat mendorong kegiatan ekonomi dan industri. Pemerintah Tiongkok diajukan sebagai contoh bagaimana membangun negeri dengan memulai membangun infrastruktur yang sangat memadai, termasuk suplai energi listrik yang cukup dan berkualitas.

Kedua, kebijakan subsidi pemerintah kepada PT PLN (persero). Sesungguhnya pemberian subsidi kepada PT PLN tidaklah tepat, baik ditinjau dari sisi keuangan negara maupun undang-undang. Sebagai entitas bisnis yang memiliki label persero, manajemen dituntut bersikap profesional dalam mengelola PT PLN.

Subsidi pemerintah kepada PT PLN selama ini dituding sebagai penyebab tidak berkembangnya kultur korporasi yang profesional di tubuh manajemen PT PLN. Subsidi yang diberikan pemerintah kepada PT PLN juga dinilai tidak tepat sasaran. Sebab, subsidi yang digelontorkan pemerintah tersebut juga dinikmati golongan masyarakat yang memiliki kemampuan membayar listrik sesuai dengan harga keekonomiannya.

Celakanya lagi, jumlah subsidi yang dinikmati kalangan mampu itu jauh lebih besar daripada jumlah masyarakat yang memang berhak atas subsidi tersebut. Karena itu, Dirut PT PLN Dahlan Iskan pernah menggulirkan wacana listrik gratis bagi pelanggan yang tidak mampu. Untuk itu, perlu dipikirkan kemungkinan pencabutan subsidi pemerintah kepada PT PLN dan mengubahnya menjadi subsidi langsung kepada pelanggan yang tidak mampu secara tunai.

Dengan begitu, subsidi yang diberikan pemerintah menjadi lebih tepat sasaran. Namun, tentunya perlu diatur mekanisme penyaluran subsidi tersebut untuk memperkecil kemungkinan penyimpangan dalam pelaksanaannya.

Permasalahan kelistrikan nasional saat ini juga tidak terlepas dari faktor teknis, dari produksi, distribusi, hingga aspek pemasaran seperti supply dan demand, termasuk penetapan tarif dasar (TDL) oleh pemerintah. Dari aspek produksi, kapasitas terpasang pembangkit listrik saat ini baru pada tahap cukup. Masih diperlukan tambahan kapasitas sekitar 30 persen dari yang sudah ada sebagai cadangan. ’’Tambahan 30 persen itu digunakan untuk memberikan pasokan listrik yang stabil kepada masyarakat. Dengan demikian, bila terjadi gangguan teknis atau perawatan pasokan, pelanggan tidak sampai terganggu,’’ kata Dahlan.

Salah satu langkah teknis adalah penggunaan bahan produksi untuk pembangkit listrik. Dalam hal itu, perlu dipikirkan pembangunan pembangkit listrik baru yang menggunakan sumber energi alternatif yang lebih murah dan ramah lingkungan (green energy). Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang memiliki banyak sumber energi alternatif, seperti panas bumi (geotermal) dengan potensi cukup besar, tetapi pemanfaatannya masih terbatas. Para peserta Rembuk Kelistrikan Nasional menilai, sudah saatnya Indonesia memanfaatkan teknologi nuklir untuk memproduksi listrik karena dianggap lebih efisien dan bersih.

Dari aspek distribusi, perlu dibangun jaringan yang dapat menjangkau daerah pelosok. Untuk daerah terisolasi seperti pulau-pulau kecil, penyediaan listrik dapat disiasati dengan membangun pembangkit listrik hibrida, yang memiliki lebih dari satu sumber energi. Misalnya, kombinasi pembangkit bertenaga surya dan berbahan bakar solar. Dengan demikian, keterpasokan listrik di daerah tersebut lebih terjamin.

Peserta juga berharap agar penetapan tarif dasar listrik lebih memiliki rasa keadilan sehingga tidak hanya menggerogoti keuangan negara. Sebab, selama ini subsidi hanya dinikmati pelanggan dengan penggunaan listrik besar, yang tentunya juga mampu secara ekonomi.

Visi Dahlan soal pelayanan dan pemasaran listrik patut diacungi jempol. Dahlan telah menelurkan konsep pengembangan listrik prabayar. Menurut skenario Dirut PLN itu, diharapkan lima juta pelanggan listrik dapat menikmati listrik prabayar hingga 2011. ’’Dengan listrik prabayar, pelanggan akan mendapatkan pelayanan berkualitas sesuai dengan jumlah yang dibayar. Itu juga melatih mereka lebih hemat dalam penggunaan listrik,’’ kata Dahlan.

Dari sisi PT PLN, pengembangan listrik prabayar dapat mengurangi jumlah tagihan listrik yang tertunggak. Permintaan pun lebih terkontrol. Pengembangan listrik prabayar juga diharapkan dapat mendorong industri pembuatan kwh meter prabayar di dalam negeri, yang teknologinya sudah dikuasai para ahli di Indonesia.

Masalah kelistrikan tak hanya soal pembangkit, pemasaran, dan distribusi. Aspek keamanan bagi pelanggan PT PLN juga menjadi perhatian. PT PLN memberikan jaminan keamanan listrik kepada masyarakat, terutama bagi pelanggan dengan kapasitas 1.300 VA ke bawah. Bila terjadi kecelakaan yang diakibatkan arus listrik dan pelanggan merugi, PLN akan mengganti kerugian pelanggan sesuai dengan kompensasi yang ditetapkan. ’’Kami menggandeng perusahaan asuransi,’’ katanya. (Sumber : Kaltim Post)
Read more ►

Jumat, 25 Juni 2010

Tarif Dasar Listrik 2010

0 komentar

Pemerintah melalui Kementerian ESDM bersama-sama dengan komisi VII DPR minus Fraksi PKS dan PDIP telah menyetujui kenaikan TDL yang berlaku per 1 Juli mendatang.
Berikut rincian kenaikan TDL baru yang bakal diterima pelanggan listrik per 1 Juli 2010 mendatang:
I. Pelanggan Rumah Tangga (R)
1. Pelanggan R1 daya 1.300VA, rata-rata pemakaian listrik 200 kWh/bln, biaya pokok produksinya Rp1.163 per kWh, TDL sebelum naik rata-rata Rp672 per kWh, rata-rata kenaikan TDL ditetapkan sebesar 18%. Dengan demikian tarif baru yang mulai berlaku per 1 Juli mendatang rata-rata mencapai Rp793 per kwh.
2. Pelanggan Rumah Tangga R1, daya 2.200 VA, pemakaian listrik rata-rata 355 kwh per bulan, besaran biaya pokok produksi (BPP) Rp1.163 per kwh, TDL rata-rata sebelum naik Rp675 per kwh. Rata-rata kenaikan 18%, sehingga tarif baru sesudah naik rata-rata jadi Rp797 per kwh.
3. Pelanggan Rumah Tangga R2, daya 3.500 VA sampai dengan 5.500VA, rata-rata pemakaian listrik 636 kwh/bln, BPP mencapai Rp1.163/kwh, harga sebelum naik Rp755 per kwh, dengan kenaikan sebesar 18%, maka tarif baru menjadi Rp891/kwh.
II. Kelompok Pelanggan Kelas Bisnis (B)
1. Untuk B1, daya 1.300 VA, rata-rata pemakaian 198kwh/bln, BPP Rp1.163/kwh, harga sebelum naik Rp685/kwh, naik sebesar 16%, sehingga harga tarif baru menjadi Rp795/kwh.
2. Untuk B2, daya 2.200 VA-5.500VA. Rata-rata pemakaian 307 kwh/bulan, BPP Rp1.163/kwh, harga sebelum naik Rp782/kwh, naik 16%, tarif sesudah naik menjadi Rp907/kwh.
3. Untuk B3, di atas 200 KVA, rata-rata pemakaian 212,249, BPP 839/kwh, harga sebelum Rp811/kwh, naik 12%, tarif sesudah naik menjadi Rp908/kwh.
III. Kelompok Pelanggan Industri (I)
1. Pelanggan I1, daya 1.300 VA, rata-rata pemakaian 178kwh/bln, BPP 1.163/kwh, tarif sebelum Rp724/kwh, dengan kenaikan 6%, maka tarif baru menjadi Rp767/kwh.
2. Pelanggan I2, daya 2.200 VA, rata-rata pemakaian 273 kwh per bulan, BPP Rp1.163/kwh, tarif sebelum naik Rp746/kwh, kenaikan 6%, maka tarif sesudah naik menjadi Rp790/kwh.
3. Pelanggan I3, daya 2.200VA sampai dengan 14 KVA, rata-rata pemakaian 872/kwh/bln, BPP Rp1.163, tarif sebelum naik Rp872/kwh, kenaikan 9%, maka tarif baru menjadi Rp916/kwh.
4. Pelanggan 14 KVA sampai dengan 200 KVA, rata-rata pemakaian per bulan 11.342, BPP Rp839/kwh, tarif sebelum naik Rp805/kwh, kenaikan 9%, tarif baru Rp878/kwh.
5. Pelanggan di atas 200 KVA, rata-rata pemakaian per bulan 314.435, BPP Rp 839/kwh, TDL sebelum naik Rp641/kwh, kenaikan 15%, tariff baru menjadi Rp737/kwh.
6. Pelanggan di atas 30.000, rata-rata pemakaian 16.592.651, BPP Rp718/kwh, tarif sebelum naik 529/kwh, kenaikan 15%, tarif baru menjadi Rp608/kwh
(Sumber : kautsarku.wordpress.com)
Read more ►

Kamis, 17 Juni 2010

Workshop Bimtek Petugas Pengelolaan PLTS

0 komentar

Berdasarkan DPA SKPD kegiatan Monitoring dan Supervisi Penggunaan Solar Light Tahun 2010, maka dilaksanakan kegiatan Workshop Bimbingan Teknis Petugas Pengelolaan PLTS. Dimana kegiatan tersebut merupakan kegiatan penunjang dalam upaya pembekalan bagi petugas/staf yang nantinya akan melakukan monitoritng dilapangan. Tujuan dari kegiatan tersebut adalah memberikan pengetahuan dasar bagi petugas mengenai PLTS. Kegiatan Workshop Bimtek Petugas Pengelolaan PLTS dilaksanakan dari tanggal 15 s/d 16 Juni 2010, bertempat di Hotel Karya Tapin 2 Tenggarong. Kegiatan tersebut dibuka Bapak Ir. Endang Priyatna (Kabid. Energi dan Ketenagalistrikan) yang mewakili Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kab. Kutai Kartanegara, Jumlah peserta yang mengikuti Bimtek tersebut sebanyak 25 orang dari Staf dilingkungan Bidang Energi dan Ketenagalistrikan serta dari Dinas Pertambangangan dan Energi Propinsi Kalimantan Timur. sedangkan Narasumber yaitu Bapak Berli Yasmon dan Bapak TB. Dimas Ikhsan Wahyu.K dari PT. Genius International. Adapun materi yang diberikan meliputi Presentai,Pelatihan dan Perencanaan PLTS, serta Pemasangan dan Perawatan PLTS. Bapak M. Saleng,ST selaku Panitia penyelenggara/PPTK, menyampaikan yang mendasari kegiatan Bimtek ini diantaranya masih minimnya pengetahuan khususnya tentang PLTS, sehingga sangat perlu sekali diadakan kegiatan Bimtek ini. Dari kegiatan tersebut nantinya diharapkan petugas/staf yang nantinya melaksanakan kegiatan monitoring dan supervisi pengunaan solar light dapat bekerja lebih maksimal.(iskdr)
Read more ►

Senin, 07 Juni 2010

Rapat Koordinasi Jaringan Listrik Desa Liang Ilir Kec. Kota Bangun

0 komentar

Pada Tanggal 7 Juni 2010 telah diadakan rapat koordinasi mengenai jaringan listrik Desa Liang Ilir Kec. Kota Bangun. Dilokasi tersebut pernah dilaksanakan pembangunan jaringan yang sama melalui APBD II tahun 2004, akan tetapi jaringan tersebut sampai sekarang belum teraliri listrik, bahkan ada sebagian kelengkapan yang terpasang ada yang hilang. untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pihak Distamben kukar mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kabid EKTL Ir. Endang Priyatna mewakili Kepala Dinas, rapat koordinasi tersebut dihadiri langsung dari pihak Kecamatan Kota Bangun,Kantor Pengelolaan Aset Daerah, Bagian Perlengkapan SetKab. Kukar, Konsultan Teknis, dan PT. PLN Ranting Kota Bangun. Dari hasil rapat tersebut dituangkan dalam notulen rapat disepakati akan dilakukan peninjauan bersama ke lokasi jaringan listrik Desa Liang Ilir Kec. Kota Bangun. Peninjauan tersebut dihadiri Distamben Kukar, Kantor Pengelolaan Aset Daerah, Bagian Perlengkapan SetKab. Kukar, Bagian Hukum Setkab. Kukar, Inspektorat Kab. Kukar, serta Konsultan Teknis, dilokasi nanti akan didampingi pihak Kecamatan Kota Bangun, Kepala Desa Liang Ilir, dan PT. PLN Ranting Kota Bangun. peninjauan tersebut rencananya akan dilaksanakan pada tanggal 9 Juni 2010.(iskdr)
Read more ►
 

Copyright © energikukar.blogspot.com Design by O Pregador | Blogger Theme by Blogger Template de luxo | Powered by Blogger